<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PWNU Jatim</title>
	<atom:link href="http://www.nujatim.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nujatim.or.id</link>
	<description>Warta Nahdliyin</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Jul 2010 12:29:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Korban Tol Minta Dukungan PCNU Jombang</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/korban-tol-minta-dukungan-pcnu-jombang/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/korban-tol-minta-dukungan-pcnu-jombang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 12:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAHDLIYIN]]></category>
		<category><![CDATA[PCNU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[JOMBANG&#8211;Polemik pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Kertosono – Mojokerto terus berlanjut. Upaya anggota Jama’ah Korban Tol (JKT) mendapatkan nilai ganti rugi yang layak atas tanah yang terkena proyek tol terus dilakukan hingga mengadukan nasibnya kepada jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang. Dihadapan sejumlah pengurus harian di kantor PCNU Jombang, Rabu (7/7) malam, puluhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/korban-tol.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-165" title="korban tol" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/korban-tol.jpg" alt="" width="150" height="174" /></a>JOMBANG&#8211;Polemik pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Kertosono –  Mojokerto terus berlanjut. Upaya anggota Jama’ah Korban Tol (JKT)  mendapatkan nilai ganti rugi yang layak atas tanah yang terkena proyek  tol terus dilakukan hingga mengadukan nasibnya kepada jajaran Pengurus  Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang.</p>
<p>Dihadapan sejumlah pengurus harian di kantor PCNU Jombang, Rabu (7/7)  malam, puluhan anggota Jama’ah Korban Tol menyampaikan uneg-uneg mereka  soal proses pembebasan lahan untuk pembangunan tol. Berbagai kecurangan  dan pelanggaran selama proses pembebasan lahan mereka ungkapkan secara  detail kepada sejumlah pengurus NU.</p>
<p>“Kami disini hendak memohon dukungan dari para ulama (Pengurus NU)  sekalian atas perlakuan Pemerintah Kabupaten Jombang yang merugikan  hak-hak masyarakat dalam proses pemebebasan tanah untuk jalan tol,”  tutur Samsul Rijal, juru bicara dari JKT membuka pembicaraan.</p>
<p>Samsul Rizal memaparkan, pada dasarnya seluruh anggota Jama’ah Korban  Tol di Kabupaten Jombang tidak menolak adanya proyek pembangunan jalan  tol. Namun, terjadinya banyak keanehan pada proses pembebasan lahan  membuat proses ini berlarut-larut.</p>
<p><strong>Ganti Rugi Tidak Manusiawi</strong></p>
<p>Keanehan yang dimaksud Rizal, adalah banyaknya kecurangan dalam  proses pembebasan lahan. “Misalnya saja, dalam prosedurnya itu khan  sosialisasi dulu baru nego (harga). Tetapi fakta di lapangan, nego dulu  baru sosialisasi,” ujarnya.</p>
<p>Selain itu, kata Rizal, dalam menentukan nilai ganti rugi, Panitia  Pengadaan Tanah (P2T) bersikap tidak fair. Jika menggunakan acuan yang  dikeluarkan tim apresial seharusnya hasil perkiraan tersebut di  publikasikan sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. “Mereka (P2T)  selalu bilang bahwa ganti rugi ini nilainya sudah paling tinggi, tetapi  jika dihitung-hitung, ganti rugi itu tidak cukup untuk membeli tanah  yang baru dengan ukuran dan kondisi yang sama,” papar Rizal.</p>
<p>Rizal menambahkan, pihaknya menyayangkan klaim Pemerintah Kabupaten  Jombang melalui Panitia Pengadaan Tanah (P2T) yang mengatakan sudah  berhasil melakukan pembebasan tanah sampai 80%. Padahal, data itu tidak  benar.</p>
<p>Menurutnya, data dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyebutkan,  sampai tanggal 26 Juni 2010 tanah di kawasan tol Mojokerto-Kertosno baru  13,6% yang berhasil dibebaskan. Manipulasi data yang dilakukan Pemda  Jombang seringkali digunakan untuk menyebarkan isu-isu yang tidak sesuai  dengan fakta yang terjadi di lapangan.</p>
<p>Ilham, anggota Jama’ah Korban Tol menambahkan, nilai ganti rugi yang  ditawarkan tim P2T Pemkab Jombang kepada pemilik lahan sangat tidak  manusiawi. “Apa ini harga yang manusiawi jika tetangga saya yang tanah  dan rumahnya kena tol hanya diberi ganti rugi Rp. 11 juta,” sesalnya.</p>
<p>Ia mengungkapkan, selain tawaran ganti rugi yang tidak manusiawi,  proses pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol juga banyak terjadi  praktek intimidasi. Hal itu, kata Ilham, memantik penilaian miring dari  warga khususnya pemilik lahan yang terkena tol. “Pembangunan jalan tol  katanya meningkatkan kesejahteraan rakyat, tetapi faktanya kesengsaraan  yang kami terima,” ujarnya.</p>
<p><strong>Perhatikan Aspek Kemanusiaan </strong></p>
<p>Sementara itu, Harianto Muspito, Ketua Jama’ah Korban Tol mengatakan,  pihaknya selama ini sudah berkali-kali meminta diadakannya musyawarah  termasuk pertemuan dengan Bupati Jombang. Namun, hingga sejauh ini belum  dikabulkan.</p>
<p>Karena sudah terlanjur kecewa, anggota Jama’ah Korban Tol meyakini  bahwa pemerintah sudah tidak memiliki i’tikad baik untuk menyelesaikan  persoalan. “Bisa dilihat sendiri, teman-teman disini bahkan sudah siap  berperang jika memang diperlukan untuk mempertahankan martabatnya  sebagai manusia” ujar Hari.</p>
<p>Menanggapi sejumlah keluhan anggota Jama’ah Korban Tol, Rois Syuriah  PCNU Jombang, KH. Abdul Natsir Fattah mengaku prihatin dengan kondisi  yang dialami warga pemilik lahan yang terkena proyek tol.</p>
<p>Menurutnya, proses pembangunan yang dilakukan olah pemerintah  seharusnya mengedepankan aspek kemanusiaan dan kebaikan bersama. “Jalan  tol itu khan dibangun untuk kemashlahatan bersama, lha kalau saya jadi  Bupatinya, saya akan menentukan harga yang paling tinggi untuk ganti  rugi agar rakyat kecil tidak dirugikan oleh pembangunan,” ujarnya.</p>
<p>“Intinya tadi tentang hak, tentang keadilan dan ditambah lagi  kewajiban sebagai warga negara dalam rangka tasharruf al-imam ’ala  al-ra’iyyah manuthun bil mashlahah,” lanjut KH. Natsir.</p>
<p>KH. Isrofil Amar, ketua Tanfidziyah PCNU Jombang mengatakan, pihaknya  akan membentuk tim khusus dan melakukan kajian terhadap proses  pembebasan lahan untuk tol yang hingga kini tak kunjung selesai. “Kami  akan membantu kesulitan bapak dan ibu sekalian, tentu kami akan  melakukan kajian terlebih dulu sebelum menentukan sikap,” katanya.  (ms/mtb/sw-info)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/korban-tol-minta-dukungan-pcnu-jombang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiai Miftah: Hidupkan Lailatul Ijtima&#8217;</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/kiai-miftah-hidupkan-lailatul-ijtima/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/kiai-miftah-hidupkan-lailatul-ijtima/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 11:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[AGAMA]]></category>
		<category><![CDATA[PCNU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[SURABAYA&#8211;Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Miftachul Akhyar meminta pengurus NU di semua tingkatan untuk menghidupkan kembali kegiatan lailatul ijtima&#8217;. Seruan itu diungkapkan dalam sambutan pada pelantikan PCNU Kota Surabaya, Rabu malam (8/7). Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftah juga mendukung komitmen PCNU untuk segera melakukan percepatan pelaksanaan program dan kegiatan. &#8220;Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/07072010004.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-160" title="07072010(004)" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/07072010004-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>SURABAYA&#8211;Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Miftachul Akhyar meminta pengurus NU di semua tingkatan untuk menghidupkan kembali kegiatan lailatul ijtima&#8217;. Seruan itu diungkapkan dalam sambutan pada pelantikan PCNU Kota Surabaya, Rabu malam (8/7).</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftah juga mendukung komitmen PCNU untuk segera melakukan percepatan pelaksanaan program dan kegiatan. &#8220;Kalau persnelengnya ada empat, silahkan langsung tancap gas. Kalau persnelengnya enam, silahkan langsung digenjot juga,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah Surabaya itu juga mengingatkan, saat ini pengurus NU cenderung terbuai oleh besarnya jumlah anggota. Tapi, kebesaran itu belum bisa dikelola dengan baik. &#8220;Malah cenderung tergoda oleh pil-pil yang ada kadalnya,&#8221; ujarnya menyindir keterlibatan pengurus NU dalam pilkada.</p>
<p>Selain itu, menurut Kiai Miftah, kebesaran NU juga tertutupi oleh kelemahan iman pengurusnya. Hal ini berimplikasi pada hilangnya prinsip sam&#8217;an wa tha&#8217;atan dalam berorganisasi. &#8220;Yang ada sekarang prinsip sami&#8217;na wa atha&#8217;na cenderung berganti menjadi sami&#8217;na wa ashayna,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Dalam kegiatan yang dirangkai dengan pelantikan pimpinan lembaga dan lajnah tersebut, PCNU Kota Surabaya juga meresmikan website yang beralamat di www.nusurabaya.or.id. Peresmian website ditandai dengan pemencetan tombol oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj.</p>
<p>Tampak hadir dalam acara yang digelar di Balai Pemuda tersebut Wakil Wali Kota Surabaya Arief Affandi, Wakil Sekretaris PWNU Jatim Nur Hidayat, dan Ketua Pimpinan Wilayah Rabithah Ma&#8217;ahid Islamiyah Jatim KH Mas Manshur Thalhah, yang juga tercatat sebagai Mustasyar PCNU.</p>
<p>Acara dimulai dengan bacaan doa oleh KH Masduqi Abdul Ghoni dan diisi pemotongan tumpeng Harlah NU oleh KH Said Aqiel Siraj. (day)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/kiai-miftah-hidupkan-lailatul-ijtima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilantik, PCNU Surabaya 2010-2015</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/dilantik-pcnu-surabaya-2010-2015/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/dilantik-pcnu-surabaya-2010-2015/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 11:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PCNU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[SURABAYA&#8211;Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Surabaya Masa Khidmat 2010-2015 dilantik pada Rabu (7/7/) malam. Acara yang dimulai pada pukul 20.26 WIB tersebut dimeriahkan oleh penampilan seniman dari Lembaga Seni Budaya Muslimin (LESBUMI). Ratusan kiai dari Surabaya tampak menghadiri acara pelantikan yang dirangkai dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-87 ini. Juga ratusan utusan majelis wakil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/pelantikan-surabaya.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-157" title="pelantikan surabaya" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/pelantikan-surabaya.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a>SURABAYA&#8211;Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Surabaya Masa Khidmat 2010-2015 dilantik pada Rabu (7/7/) malam. Acara yang dimulai pada pukul 20.26 WIB tersebut dimeriahkan oleh penampilan seniman dari Lembaga Seni Budaya Muslimin (LESBUMI).</p>
<p>Ratusan kiai dari Surabaya tampak menghadiri acara pelantikan yang dirangkai dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-87 ini. Juga ratusan utusan majelis wakil cabang (MWC) dan ranting NU se-Surabaya.</p>
<p>Tampak duduk di kursi undangan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftahul  Akhyar, Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siraj, Wakil Wali Kota Surabaya Arif Affandi, pejabat Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya dan jajaran Pemerintah Kota Surabaya.</p>
<p>Proses pelantikan diawali pembacaan surat keputusan PBNU oleh Wakil Sekretaris PWNU Nur Hidayat. Sedangkan prosesi pelantikan dan pembacaan ikrar dipimpin oleh Rais Syuriah PWNU KH Miftahul Akhyar. Acara juga dirangkai dengan pelantikan lembaga dan lajnah PCNU oleh Rais Syuriah PCNU Surabaya KH Achmad Dzul Hilmi dan dilanjutkan taushiyah oleh Ketua Umum PBNU  Prof DR KH Said Aqiel Siraj.</p>
<p>Acara pelantikan juga diwarnai <em>launching </em>website  PCNU Surabaya yang beralamat di <a href="http://www.nusurabaya.or.id/">www.nusurabaya.or.id</a>. (<strong>day/nu-sby</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/10/dilantik-pcnu-surabaya-2010-2015/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penguatan Aswaja PCNU Lumajang</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/08/penguatan-aswaja-pcnu-lumajang/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/08/penguatan-aswaja-pcnu-lumajang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 02:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PCNU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[LUMAJANG&#8211;Dalam rangka menghadapi maraknya berbagai aliran di luar ahlussunnah wal jamaah yang merebak di mana-mana dan tidak jarang bersinggungan dengan warga nahdliyyin, PCNU Lumajang mengadakan pelatihan penguatan Aswaja yang diikuti oleh seluruh jajaran pengurus NU Lumajang, mulai dari tingkat cabang sampai ke tingkat MWC dan ranting. Acara tersebut terlaksana berkat kerjasama PCNU Lumajang dengan PC [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/KITAB.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-152" title="KITAB" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/KITAB-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>LUMAJANG&#8211;Dalam rangka menghadapi maraknya berbagai aliran di luar ahlussunnah wal jamaah yang merebak di mana-mana dan tidak jarang bersinggungan dengan warga nahdliyyin, PCNU Lumajang mengadakan pelatihan penguatan Aswaja yang diikuti oleh seluruh jajaran pengurus NU Lumajang, mulai dari tingkat cabang sampai ke tingkat MWC dan ranting.</p>
<p>Acara tersebut terlaksana berkat kerjasama PCNU Lumajang dengan PC Lakpesdam NU Lumajang. Acara tersebut dilaksanakan selama empat hari dengan tempat yang berbeda, yaitu pada tanggal 29 Mei di MWC Pasirian, 30 Mei di MWC Kota Lumajang, 12 Juni (di MWC Randuagung) dan 13 Mei di MWC Tekung. Hadir sebagai nara sumber dalam pelatihan penguatan Aswaja tersebut, Tim LBM NU Jember yang terdiri dari Ustadz Abdul Haris MAg. dan Ustadz Muhammad Idrus Ramli, penulis buku “Madzhab al-Asy’ari Benarkah Alussunnah Wal-Jama’ah? Jawaban Terhadap Aliran Salafi”, dan bertindak sebagai moderator, Ketua PC Lakpesdam NU Lumajang Zainul Mustafa, MAg.</p>
<p>Menurut Ketua PCNU Kota Lumajang Drs Fanandri Abdussalam, MSi, acara tersebut akan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan kadersisasi Aswaja ke seluruh jajaran pengurus dan warga nahdliyyin di Kabupaten Lumajang secara lebih menyeluruh dan intensif.<strong> (lbm/aula)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/08/penguatan-aswaja-pcnu-lumajang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiai Basyir-Pandji Pimpin NU Sumenep</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/08/kiai-basyir-pandji-pimpin-nu-sumenep/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/08/kiai-basyir-pandji-pimpin-nu-sumenep/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 02:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[PCNU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[SUMENEP&#8211;Pemilihan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep, Sabtu malam (29/5) di halaman Ponpes Mathaliul Anwar, Pangarangan berjalan dengan jujur, rahasia dan aman. Terpilih sebagai Rais Syuriah NU Sumenep periode 2010-2015 KH Ahmad Basyir Abdullah Sajad dan H Pandji Taufiq sebagai Ketua Tanfidziyah. Terjaring pada sidang pemilihan bakal calon Rais Syuriyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/warta-nu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-148" title="warta-nu" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/warta-nu-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a>SUMENEP&#8211;Pemilihan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumenep, Sabtu malam (29/5) di halaman Ponpes Mathaliul Anwar, Pangarangan berjalan dengan jujur, rahasia dan aman. Terpilih sebagai Rais Syuriah NU Sumenep periode 2010-2015 KH Ahmad Basyir Abdullah Sajad dan H Pandji Taufiq sebagai Ketua Tanfidziyah.</p>
<p>Terjaring pada sidang pemilihan bakal calon Rais Syuriyah antara lain KH Ahmad Basyir Abdullah Sajad (188 suara), KH Thaifur Ali Wafa (43 suara), KH Taufiqurrahman FM (41 suara), Hasan Basri (3 suara), H Pandji Taifiq (2 suara), KH Warits Ilyas (2 suara), KH Tsabit (1 suara), KH Mahfudz (1 suara), K Said Abdullah (1 suara), KH Taufiqurrahman Syakur (1 suara), KH Abdullah Khalil (1 suara) dan tidak sah (3 suara).</p>
<p>Berdasarkan pasal 29 ayat 4 poin a. yang menyatakan calon Rais Syiriyah sekurang-kurangnya didukung 30 suara, maka dari 13 nama bakal calon terjaring tiga calon Rais Syuriyah; KH Ahmad Basyir, KH Thaifur Ali Wafa dan KH Taufiqurrahman FM. Namun, KH Thaifur Ali Wafa dan KH Taufiqurrahman FM tidak berkenan untuk dicalonkan pada pemilihan Rais Syuriyah, sehingga dengan aklamasi dan cukup satu putaran terpilihlah KH Ahmad Basyir Abdullah Sajad sebagai Rais Syuriyah PCNU Sumenep.</p>
<p>Sedangkan pemilihan ketua tanfidziyah berbeda dengan pemilihan rais syuriyah., setelah pemilihan bakal calon Ketua Tanfidziyah, dari 13 nama yang diusulkan menjadi calon, terjaring tiga nama yang memenuhi pasal 29 tentang syarat seorang calon. Kemudian dari tiga calon suara terbanyak H Pandji Taufiq (123 suara), K Mahfudz Rahman (87 suara) dan KH Hasan Bashri (45 suara), satu calon tidak bersedia untuk dicalonkan, pada putaran pemilihan calon Ketua Tanfidziyah H Pandji Taufiq dan K Mahfudz Rahman maju ke pemilihan ketua tanfidziyah putaran kedua. Saat perhitungan surat suara, peserta konfercab sempat tegang pasalnya perolehan suara dua calon tersebut beriringan dan tipis. Hasil rekapitulasi suara pemilihan putaran kedua, H Pandji Taufiq memperoleh 154 suara dan K Mahfudz Rahman mendapat 136 suara. (<strong>mka/aula)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/08/kiai-basyir-pandji-pimpin-nu-sumenep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Andalkan Doa, Santuni Yatim dan Janda</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/andalkan-doa-santuni-yatim-dan-janda/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/andalkan-doa-santuni-yatim-dan-janda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 09:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAHDLIYIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi profil penerima penghargaan Anugerah NU di Jawa Timur Aula hadirkan. Dialah H Khoiri dengan aktivitasnya di Yatinda. Untuk santunan, lebih dari dua juta ia habiskan dalam sebulan. Tapi tak ada donatur tetap. Tak ada pula proposal permohonan bantuan. Lho, kok bisa? Suatu siang di tahun 2004. H Khoiri sedang bersantai di depan rumahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/abah-khoiri.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-145" title="abah khoiri" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/abah-khoiri-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a>Satu lagi profil penerima penghargaan Anugerah NU di Jawa Timur Aula hadirkan. Dialah H Khoiri dengan aktivitasnya di Yatinda. Untuk santunan, lebih dari dua juta ia habiskan dalam sebulan. Tapi tak ada donatur tetap. Tak ada pula proposal permohonan bantuan. Lho, kok bisa?</p>
<p>Suatu siang di tahun 2004. H Khoiri sedang bersantai di depan rumahnya sambil beristirahat. Tampak seorang perempuan tua berjalan lambat. Tangan kanannya sesekali menyeka wajah dari keringat. Rasanya ia tak kuasa menahan terik matahari yang menyengat. Sementara tangan kirinya membawa selembar kain yang dilipat.</p>
<p>“Mau ke mana bu?” sapa H Khoiri.</p>
<p>“Mau ke pegadaian pak. Menggadaikan sarung ini untuk makan,” jawab janda itu.</p>
<p>“Memangnya kain sarung seperti itu dihargai berapa,” lanjut pria yang berusia lebih dari setengah abad itu bertanya.</p>
<p>“Ya, paling-paling tiga ribu,” jawab janda itu.</p>
<p>Terhenyaklah batin H Khoiri mendengar jawaban itu. Betapa tidak. Di sekitar rumahnya ada seorang janda tua yang sedang berjuang hidup dengan cara seperti itu. “Wah, jangan-jangan tidak hanya satu, tapi banyak. Atau jangan-jangan ia juga membiayai hidup anak-anaknya?” Demikian kira-kira kegalauan H Khoiri kala itu.</p>
<p>Peristiwa itu membangkitkan rasa empati H Khoiri dan keluarganya. Meskipun ia sendiri tergolong dari keluarga yang sederhana. Hanya saja ia merasa lebih beruntung karena anak-anaknya sudah berkeluarga dan bekerja. Sepintas batinnya berdoa agar Allah memberinya kesempatan agar ia bisa membantu sesama. Ya, minimal sekedar memberi beras untuk para yatim dan janda di sekitar rumahnya.</p>
<p>Tekad itu ternyata makin bergelora. Apalagi istri, anak dan tetangga mendukung gagasaannya. Sekelompok tim kecil dibentuknya sehingga muncul nama Yatinda. Pendataan janda dan yatim dilakukan di sekitar rumahnya. Tapi ada masalah besar di hadapannya. Mau dapat uang dari mana?</p>
<p>H Khoiri dan pengurus Yatinda tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berdoa. Berhari-hari kegiatan Yatinda hanya berkumpul dan berdoa bersama. Hingga</p>
<p><strong>Kategori Pelayanan Sosial</p>
<p></strong>Namanya cukup singkat: Khoiri. Tapi, nama itu betul-betul mewujud dalam setiap langkah hidupnya.  Bersama sang istri, H Khoiri menebar kebaikan dengan menyantuni 38 yatim dan sekitar 200-an janda di sekitar tempat tinggalnya. Uniknya, anak yatim dan janda yang disantuni sejak 2004 itu tetap tinggal di rumah masing-masing. Mereka tersebar di lima kampung di kawasan Sepanjang. Yaitu, Wonocolo Selatan, Bebekan Selatan, Ketegan, Taman dan Kalijaten.</p>
<p>Setiap sore, anak-anak yatim tersebut diajari mengaji oleh sang istri, Hj Mujiati. Sementara, para janda dan kaum fakir diajak ber-istighotsah setiap minggu pagi, bertempat di mushalla dan rumah mungilnya di dekat rel kereta api. Seusai istighotsah, Khoiri membagikan santunan beras dan uang tunai kepada para janda dan kaum fakir tersebut. Tidak kurang dari dua juta ia habiskan dalam sebulan. Tapi, ketika ditanya dari mana saja uang tersebut diperoleh, ia selalu menjawab tidak tahu. Meski demikian, ia mengatakan bahwa selama ini selalu saja ada orang yang datang untuk membantu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/andalkan-doa-santuni-yatim-dan-janda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anugerah untuk Keberhasilan Bidang Akademik</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/anugerah-untuk-keberhasilan-bidang-akademik/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/anugerah-untuk-keberhasilan-bidang-akademik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 09:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAHDLIYIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Belum genap 12 tahun, suatu tekad kuat berhasil menjadi fakta. Lembaga pendidikan menengah dirintis di Surabaya dan cukup diperhitungkan kualitas lulusannya. Dari 28 siswa bisa berkembang menjadi 2000 siswa. Tak heran jika penghargaan Anugerah NU bidang pendidikan layak disandangnya. Hujan sedang menggelayuti Surabaya. Meski tak terlalu deras, malam itu atap bangunan, dedaunan dan jalanan jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/asep.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-141" title="asep" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/asep.jpg" alt="" width="208" height="167" /></a>Belum genap 12 tahun, suatu tekad kuat berhasil menjadi fakta. Lembaga pendidikan menengah dirintis di Surabaya dan cukup diperhitungkan kualitas lulusannya. Dari 28 siswa bisa berkembang menjadi 2000 siswa. Tak heran jika penghargaan Anugerah NU bidang pendidikan layak disandangnya.</p>
<p>Hujan sedang menggelayuti Surabaya. Meski tak terlalu deras, malam itu atap bangunan, dedaunan dan jalanan jadi basah dibuatnya. Namun tetap saja Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA sibuk menyambut para tamu yang hadir di kompleks pesantrennya. Sekitar 100 orang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) II Persatuan Guru NU (Pergunu) sebagai peserta.</p>
<p>Kiai Asep adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Pergunu yang juga pengasuh Pesantren Amanatul Ummah. Salah satu alasan ditempatkannya Munas Pergunu kali ini di pesantrennya adalah sebagai rasa syukur Kiai Asep kepada Allah karena lembaga pendidikannya terus berprestasi.</p>
<p>“Rasa syukur saya tak terkira atas prestasi ini. Sebagai tuan rumah, saya berterimakasih kepada para hadirin yang sudi mengikuti kegiatan ini di pesantren dengan segala fasilitasnya yang terbatas. Tidak seperti di hotel. Tapi inilah salah satu wujud rasa syukur yang telah kami upayakan semaksimal mungkin,” kata mantan Ketua PCNU Surabaya ini saat menyampaikan sambutan.</p>
<p>Selain itu, Kiai Asep juga menyampaikan beberapa prestasi Amanatul Ummah. Ketika kualitas pendidikan diukur dari keberhasilan lulus ujian naisonal, seluruh siswa Amanatul Ummah bisa memenuhinya. Ketika diukur dari masuknya lulusan di Fakultas Kedokteran dan Teknik Informatika di perguruan tinggi negeri, banyak lulusan Amanatul Ummah yang berhasil diterima di kedua fakultas favorit itu di berbagai perguruan tinggi negeri, bahkan lolos dalam seleksi ketat program beasiswa. Ketika diukur dari diterimanya lulusan di perguruan tinggi luar negeri, tak sedikit lulusan Amanatul Ummah yang menerima beasiswa di negara-negara Timur Tengah. Demikiam kata Kiai Asep.</p>
<p>Meski demikian, tentu saja tidak ada sesuatu yang benar-benar sempurna. Terlepas dari kekurangannya, keberhasilan yang sudah dicapai Amanatul Ummah layak diapresiasi. Karea itulah, kesesokan malamnya Kiai Asep –dengan Amanatul Ummahnya– dinobatkan sebagai penerima Anugerah NU bidang pendidikan. Penghargaan itu diberikan oleh PWNU Jatim dalam acara puncak Harlah NU ke-84 pada Ahad (31/1) malam di Kantor PWNU Jatim.</p>
<p><strong>Militansi Idealisme Aswaja<br />
</strong>Saat dikonfirmasi atas anugerah itu, Kiai Asep mengaku terkejut. Ia mengangggap PWNU sangat jeli dalam menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Padahal selama ini Kiai Asep tidak pernah melaporkan perkembangan Amanatul Ummah kepada PWNU.</p>
<p>“Ternyata PWNU jeli memantau perkembangan Amanatul Ummah. Mungkin juga karena pernah dimuat di Aula,” katanya saat ditemui di kediamannya di Jalan Siwalankerto No. 56 Surabaya.</p>
<p>Amantul Ummah memang memilih segmen pendidikan tingkat menengah; Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). sebab, menurut Kiai Asep, lembaga pendidikan menengah bisa memaksimalkan militansi idealism Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) bagi para santri.</p>
<p>Pembentukan karakter keilmuan dan kecerdasan semakin dikokohkan dengan akhlakul karimah yang dididik di pesantren. Sehingga dimensi intelektual dan dimensi spiritual sama-sama memiliki keunggulan yang seimbang.</p>
<p>“Memang sulit memahami dan menerapkan konsep itu tapi kalau memang ada yang ingin melihat langsung prosesnya, saya sangat terbuka. Silakan datang ke Amanatul Ummah untuk berdialog dan merasakan langsung bagaimana sistem pendidikan kami,” lanjutnya.</p>
<p>Kini, Amanatul Ummah memiliki sekitar 2000 santri yang tersebar di lima lembaga pendidikan; MTs Amanatul Ummah (reguler), MTs Amanatul Ummah Akselerasi (ditempuh 2 tahun), MA Unggulan Amanatul Ummah (reguler), MA Unggulan  Amanatul Ummah Akselerasi (ditempuh 2 tahun) dan MA  Amanatul Ummah Bertaraf Internasional yang lulusannya berhak menerima Ijazah Nasional, Ijazah yang disamakan dengan Al-Azhar Mesir, Ijazah dari Cambridge University Inggris.</p>
<p>Selain itu, Amanatul Ummah telah memiliki cabang di Mojokerto. Tepatnya di Desa Kembangkelor, Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. Di desa terpencil inilah, Kiai Asep mendirikan MA Amanatul Ummah Bertaraf Internasional.</p>
<p>Anugerah NU itu sendiri diberikan kepada Kiai Asep tak lepas dari kiprahnya sejak memimpin PCNU Surabaya. Kiai Asep dikenal memiliki tekad yang kuat dalam mewujudkan cita-citanya. Bangunan PCNU Kota Surabaya yang berdiri megah di Jalan Bubutan tidak bisa dilepaskan dari sentuhan tangan dinginnya. Karena itu, tidak mengherankan pula jika dalam waktu singkat ia berhasil mewujudkan sekolah unggulan yang diperhitungkan oleh berbagai kalangan. <strong>(afif)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/anugerah-untuk-keberhasilan-bidang-akademik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belimbing Tasikmadu: Produk Lokal, Juara Kontes Internasional</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/belimbing-tasikmadu-produk-lokal-juara-kontes-internasional/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/belimbing-tasikmadu-produk-lokal-juara-kontes-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 09:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[NAHDLIYIN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Jenis belimbing tasikmadu telah dinobatkan sebagai produk unggulan nasional dan belimbing kualitas terbaik di Jatim. Siapa sangka kalau perintisnya adalah seorang lulusan pesantren yang pernah menjadi Ketua Ranting NU. Sulit rasanya menggunakan bahasa untuk mengungkapkan semua rasa. Sama sulitnya dengan menjelaskan perbedaan manisnya madu, manisnya buah dengan manisnya gula. Demikian juga terasa sulit menggambarkan manisnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/blimbing3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-138" title="blimbing3" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/blimbing3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Jenis belimbing tasikmadu telah dinobatkan sebagai produk unggulan nasional dan belimbing kualitas terbaik di Jatim. Siapa sangka kalau perintisnya adalah seorang lulusan pesantren yang pernah menjadi Ketua Ranting NU.</p>
<p>Sulit rasanya menggunakan bahasa untuk mengungkapkan semua rasa. Sama sulitnya dengan menjelaskan perbedaan manisnya madu, manisnya buah dengan manisnya gula. Demikian juga terasa sulit menggambarkan manisnya belimbing tasikmadu dengan belimbing lainnya. Manis rasanya, besar bentuknya, mencolok warnanya dan harum aromanya. “Pokoknya belimbing tasikmadu lebih enak,” begitu kira-kira akhirnya.</p>
<p>Ya. Belimbing jenis ini memang belum ada duanya. Sehingga diberi nama tasikmadu sesuai nama desanya. Di kawasan pantai utara Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, desa ini berada. Di arah timur pusat kota dan berada di perbatasan dengan Kabupaten Lamongan bagian utara.</p>
<p>Siapa yang berperan besar di balik penemuan belimbing yang khas ini? Dialah H Mahrus. Seorang warga setempat yang secara otodidak dan sedikit nekat berani mencoba mengembangkannya.</p>
<p>Sebagaimana kehidupan di desa, menemukan rumah H Mahrus tidak sulit. Begitu masuk ke kawasan Desa Tasikmadu, bertanyalah kepada warga di mana lokasi rumah H Mahrus. Maka Anda akan sampai ke rumahnya hanya dengan arahan mereka.</p>
<p>Putra pasangan H Muhammad Jais dan Hj Aminah ini mengaku keberhasilannya sempat diklaim sebagai binaan salah satu pesantren yang berafiliasi ke ormas tertentu. Tentu saja H Mahrus keberatan dengan pemberitaan itu. Setali tiga uang, PWNU Jatim akhirnya memberikan Anugerah NU 2010 di bidang pengembangan ekonomi masyarakat.</p>
<p>Saat diundang oleh PWNU Jatim untuk menerima Anugerah NU pada puncak Harlah NU ke-84 pada Ahad (31/1) lalu, H Mahrus tak bisa hadir. Ia lebih memilih untuk mengikuti kegiatan keagamaan di Kota Tuban yang secara istiqamah telah ia jalani beberapa tahun terakhir</p>
<p><strong>Berinduk dari Belimbing Depan Rumah<br />
</strong>Kisah keberhasilan H Mahrus dimulai pada tahun 1986. Saat itu ia baru saja pulang ke rumah setelah lulus dari Pendidikan Guru Agama (PGA setingkat SMA) di Pesantren Darut Tauhid Al-Alawi Senori, Tuban. Ia melihat pohon belimbing di depan rumahnya sedang berbuah. Meski banyak pohon belimbing lain di desanya, tapi masyarakat lebih menyukai belimbing yang ditanam oleh Ibu Aminah itu. Lebih manis kata mereka.</p>
<p>H Mahrus sendiri tidak tahu apa penyebabnya bisa begitu. Ia hanya mengira bahwa dulu perawatannya bagus dan didukung dengan struktur tanah kapur di daerahnya yang memang baik untk buah-buahan.</p>
<p>“Waktu itu ibu saya juga pernah mengatakan dengan sedikit bergurau kalau belimbing in bisa jadi uang kalau mau menjualnya,” kata putra ketiga dari enam bersaudara ini.</p>
<p>Perubahan besar berawal dari keberanian H Mahrus. Saat mayoritas masyarakat menanami ladanganya dengan jagung, kacang dan jenis palawija lainnya, H Mahrus nekat menanami ladang ayahnya dengan 33 pohon belimbing yang tumbuh dari biji belimbing. Sedianya ia mengira panen akan membutuhkan waktu yang lama. Namun setelah dirawat secara intensif dengan pemupukan dan pengairan yang cukup, ternyata hanya butuh 9 bulan untuk panen.</p>
<p>Setelah panen, memang tidak semua pohon menghasilkan buah semanis induk belimbing yang ada di depan rumahnya. Namun dibanding dengan pohon milik warga lain, belimbing H Mahrus masih terbilang lebih manis.<br />
“Hasil panennya saya jual di pasar dengan harga 2.500 per kilo. Setiap pagi saya bawa dua kardus dan selalu habis dalam waktu kurang dari 2 jam,” terang ayah dua anak ini.</p>
<p>Sejak itulah, masyarakat mulai mencari-cari belimbing H Mahrus. Mereka bingung bagaimana menyebut jenis belimbing itu sehingga disebut saja belimbing tasikmadu karena berasal dari Desa Tasikmadu. Ada pula yang menyingkatnya dengan menyebut blimbing madu karena saking manisnya.</p>
<p>Kabar adanya belimbiing tasikmadu kemudian semakin luas. Banyak warga Kota Tuban yang tiba-tiba datang ke rumahnya untuk membeli belimbing. Terutama komunitas warga Tionghoa. Hampir setiap hari Ahad mereka datang dan mengambil sendiri belimbing di ladang. Seperti menjadi tempat wisata jadinya.</p>
<p>Saat itulah H Mahrus semakin yakin belimbing ini adalah ladang bisnisnya yang harus dikembangkan. Dari ladang yang hanya berukuran 40 x 45 meter persegi telah berkembang menjadi lahan seluas 15 hektar dengan sedikitnya 6.000 batang pohon belimbing. Pada umur empat tahun, satu pohon bisa menghasilkan 30-50 kilogram buah belimbing per tahun. Saat panen raya, desa ini bisa menghasilkan satu hingga dua ton buah bintang segar per hari. Dari harga Rp. 2.500 per kilo, sekarang sudah seharga Rp. 10.000 – Rp. 15.000 per kilo.</p>
<p>Kini, H Mahrus lebih banyak di rumah berkonsentrasi merawat dan memanen pohon belimbing. Untuk pemasaran dan mengembangkan usaha ke luar, H Mahrus menyerahkannya kepada adiknya, Yasin. Tak hanya di Tuban, belimbingnya telah merambah ke hampir seluruh daerah di Jatim. Umunya para tengkulak buah datang langsung ke rumahnya dan memasarkannya di daerah masing-masing.</p>
<p>Menurut H Mahrus salah seorang pembeli besarnya berasal dari Surabaya. Dia adalah seorang keturunan Tionghoa yang biasa memborong puluhan kwintal belimbing tasikmadu dan menjualnya di beberapa supermarket. Dia pula yang pernah membawaa belimbing ini mengikuti kontes internaisonal buah tropis di Singapore pada 2002. Di sana, belimbing menag sebagai juara pertama kategori aroma dan juara ketiga kategori bentuk buah.</p>
<p>Karena itulah tak heran jika Menteri Pertanian RI Anton Apriantono pada 2008 silam tak segan berkunjung ke ladang belimbing tasikmadu. Dinas Pertanian Provinsi Jatim juga tak ragu memberikan sertifikat kepada H Mahrus yang menetapkan belimbing tasikmadu debagai varietas baru buah belimbing dan menjadi produk unggulan nasional dari Jatim.</p>
<p>Perkembangan bisnis belimbing tasikmadu dengan sendirinya meningkatkan taraf ekonomi warga Tasikmadu. Mereka tergolong dalam tiga kelompok yang memiliki peran berbeda. Pertama, tetangga yang memiliki ladang. Mereka melakukan perjanjian bagi hasil dengan merelakan ladangnya ditanami belimbing oleh H Mahrus. Mereka berhak menerima 1/3 hasil penjualan belimbing setelah dipotong biaya. Kedua, para pekerja yang membantu H Mahrus merawat dan memanen belimbing. Sebelumnya rata-rata mereka bekerja sebagai buruh tani yang jumlanya tak kurang dari 100 orang. Ketiga, warga sekitar yang menjadi penjual belimbing di sekitar jalan raya dan pasar-pasar tradisional di Kecamatan Palang. (<strong>afif</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/belimbing-tasikmadu-produk-lokal-juara-kontes-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Kuning Pasca Gus Dur</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/kitab-kuning-pasca-gus-dur/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/kitab-kuning-pasca-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 09:14:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[TURATS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Affandi Mochtar Kitab kuning sebagai khasanah Islam yang banyak dikaji di pesantren, khususnya pesantren tradisional, sesungguhnya masih menjadi rujukan utama bagi keberagamaan umat Islam di Indonesia. Namun sayangnya, karena dianggap ‘tradisional’ maka promosinya dan citranya tidak sebaik manfaatnya. Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu tokoh yang membuktikan keunggulan literatur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/gd.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-135" title="gd" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/gd-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" /></a>Oleh: Affandi Mochtar</p>
<p>Kitab kuning sebagai khasanah Islam yang banyak dikaji di pesantren,  khususnya pesantren tradisional, sesungguhnya masih menjadi rujukan  utama bagi keberagamaan umat Islam di Indonesia. Namun sayangnya, karena  dianggap ‘tradisional’ maka promosinya dan citranya tidak sebaik  manfaatnya. Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah  salah satu tokoh yang membuktikan keunggulan literatur pesantren yang  bernama kitab Kuning ini.</p>
<p>Almarhum Gus Dur adalah sosok yang lahir dari keluarga kyai dan  pesantren yang akrab dengan Kitab Kuning. Pendidikan dasarnya ditempuh  di lingkungan pendidikan pesantren, yang mempelajari Kitab Kuning. Dia  belajar ke luar negeri, ke Mesir, ke Irak di Baghdad, juga belajar agama  dengan literatur kitab kuning. Dia balik ke Indonesia, juga menyibukkan  diri dengan berbagai aktifitas, yang tidak terlepas dari kitab kuning.  Pada masa awal kepempimpinannya di NU, dia menghidupkan kajian kitab  kuning. Dia diundang ke berbagai seminar, berbicara di berbagai forum  dengan perspektif kitab kuning, yang di dalamnya terdapat berbagai  pandangan ulama yang beragam mengenai berbagai hal.</p>
<p>Ketokohan Gus Dur mendorong kitab kuning menjadi salah satu referensi  pemikiran Islam di Indonesia. Kalau orang memberi penghargaan  intelektual pada Nurcholish Madjid (Cak Nur) misalnya, maka salah satu  point penilaiannya adalah karena Cak Nur bisa membaca dan menguasai  kitab kuning, sebagaimana Gus Dur. Betapa kitab kuning oleh Gus Dur  menjadi element penting bagi pemikiran Islam di Indonesia. Di tangan Gus  Dur, kaedah-kaedah yang bersumber pada Kitab Kuning dicoba  eksperimenkan untuk menyelesaikan berbagai masalah di negeri ini.</p>
<p>Memang kita akui bahwa landasan dasar keberagamaan umat Islam adalah  al-Qur’an dan Hadis. Tetapi hanya merujuk pada al-Qur’an dan Hadis  begitu saja, akan menyebabkan terjadinya simplikasi.  Dan jika jika  hanya langsung merujuk pada teks Al-Qur’an dan Hadis tanpa melihat  pandangan ulama dan proses berfikirnya, maka berarti mengabaikan proses  pemikiran, metode penalaran ulama yang begitu kaya yang terdiri dari  ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, ilmu ushul fiqh dan lainnya. Jika  ini yang terjadi, maka berarti kita membaca Al-Qur’an dan Hadis tidak  dengan ilmunya. Padahal cara menafsirkan teks itu sendiri sesungguhnya  sangat complicated. Inilah yang gagal ditangkap oleh banyak orang  sekarang ini. Sepertinya hanya dengan berdasarkan ayat Al-Qur’an yang  ditemukan dari koran, majalah, buletin atau internet lalu seseorang bisa  berdalil atas sesuatu, menghukumi sesuatu. Ini adalah pendangkalan  khasanah Islam, yang sesungguhnya sangat kaya raya. Akan terjadi missing  link yang panjang kalau kita mengabaikan kahzanah Islam seperti yang  ada di kitab kuning.</p>
<p>Karena itu, sekarang ini, sepeninggal Gus Dur, kita hendaknya tidak  membiarkan kitab kuning kembali hanya dikaji di pesantren-pesantren  saja, dan tidak mewarnai keberagaman kita sehari-hari. Untuk itu menurut  hemat saya, sepeninggal Gus Dur, sepeninggal tokoh kuat yang dapat  membawa kitab kuning ke kancah nasional, kita berkewajiban menjaga  posisi kitab kuning sebagai referensi utama dalam keberagamaan kita.</p>
<p>Untuk itu paling tidak ada beberapa langkah perlu dilakukan:  <em>Pertama</em>,  membentuk Kitab Kuning Study Centre, yang berusaha menyediakan koleksi  kitab kuning dan hasil kajian serta penelitian tentang kitab kuning yang  pernah dilakukan. Dalam hal ini, secara kreatif kita bisa  mensosialisasikan kitab kuning melalui perpustakaan digital dan Library  Mobile, mobil perpustakaan kitab kuning. Suatu saat mungkin jika ada  acara Bahtsul Masail di suatu daerah, maka mobil perpustakaan kitab  kuning ini bisa diberangkatkan ke daerah tersebut. Demikian juga jika  ada kajian yang memerlukan perpusatakaan Kitab Kuning.<br />
<em><br />
Kedua</em>, dalam rangka mengembalikan posisi penting Kitab Kuning  sebagai literatur keberagamaan kita, maka kita perlu menggelorakan forum  Bahstul Masail, yang merupakan forum kajian atas berbagai masalah yang  dibahas dengan basis rujukan dan perspektif Kitab Kuning. Ini adalah  forum dan sekaligus juga sebagai instrumen untuk pengembangan berfikir  kritis. Untuk menggelorakan forum Bathsul Masail, maka kiranya perlu  digagas penyelelenggaraannya Bahtul Masail yang tidak sebatas di  lingkungan kalangan pesantren saja,  tetapi juga merambah tempat dan  kalangan lebih luas lagi. Seperti di masyarakat pada umumnya, di  masyarakat kelas menengah atau kalangan professional. Atau kita juga  bisa melaksanakan Bahtul Masail di Perguruan-Perguruan Tinggi, termasuk  Perguruan Tinggi umum. Ini penting, agar kalangan Perguruan Tinggi umum  bukan hanya disuguhkan model model dakwah Islam ala tarbiyah dan usroh  saja. Dengan Bahtsul Masail ini mereka akan tahu model kajian Islam yang  lebih otoritatif, sekaligus juga beragam dan bervariatif.<br />
<em><br />
Ketiga</em>, kita perlu menggelorakan kembali kajian-kajian Kitab  Kuning, dengan berbagai variasi studinya. Secara sederhana yang disebut  dengan kajian atau mengaji kitab kuning adalah membacanya dan  menerjemahkannya  serta menjelaskan isi kandungannya. Namun sebagai  upaya pengembangan, kajian atau pengajian Kitab  Kuning juga bias  dilakukan dengan pola kontekstualisasi, membacanya, menjelaskan  kandunagnnya, dan kemudian mengkontekstualisasikannya dengan  perkembangan masyarakat. Serta tidak lupa dicarikan legitimasi ayat  al-Qur’an dan Hadis Nabi-nya.<br />
<em><br />
Keempat</em>, dalam rangka menggelorakan studi atas kitab kuning maka  kiranya perlu ada riset atas Kitab Kuning.  Riset ini bisa dilakukan  dari yang paling sederhana, seperti riset yang dilakukan untuk keperluan  tahqiq, sampai dengan riset yang dilakukan sebagai sebuah studi wacana,  studi kritis dan seterusnya. Untuk mewujudkan kegiatan penelitian kita  perlu berjejaring dengan banyak pihak, tokoh, akitifs dan para peneliti.  Termasuk jaringan lembaga penelitian di dalam dan di luar negeri.</p>
<p><em>Kelima</em>, selain kajian dan penelitian, kiranya kita juga perlu  mewujudkan model kajian Kitab Kuning yang lebih kreatif, termasuk  memanfaatkan teknologi informasi. Walaupun secara khas namanya sorogan,  bandongan, wetonan dan bahtsul masail tetap kita pertahankan, tetapi  kita juga perlu membuat model pembelajaran Kitab Kuning yang berbasis  teknologi informasi. Secara sederhana, misalnya saja kita membuat daftar  glosari bagi kosa kata yang sering terulang-ulang dalam Kitab Kuning.  Pada perkembanganya, glosari bias dikompilasi dan disusun menjadi sebuah  kamus, Kamus Kitab Kuning. Itu sebagai salah satu contoh  mudah.<br />
Keenam, perlu ada kegiatan penerbitan yang mencoba melakukan reproduksi  dan kreasi wacana dan kandungan kitab kuning. Penerbitan ini penting  sebagai media sosialisasi dan penyebaran wacana hasil-hasil kajian dan  penelitian atas Kitab Kuning.<br />
<em><br />
Keenam</em>, gagasan untuk melangkah di atas sungguh timbul dari  kepekaan diri atas termajinalkannya kembali posisi Kitab Kuning di jagad  intelektual Indonesia. Kepedulian ini bukan sesuatu yang istimewa,  tetapi lebih merupakan panggilan jiwa. Kalau kita tidak lagi peka dan  terlibat menyelamatkan posisi strategis Kitab Kuning dalam kebergamaan  kita ini, maka nanti ada sesuatu yang dihilang di masa yang akan datang  itu. Dan indikasi akan hal tersebut sudah mulai Nampak.</p>
<p>Sebagai contoh mudah, beberapa minggu lalu diberitakan ada kelompok  waria bikin acara kemudian dibubarkan oleh kawan-kawan kita. Jauh  sebelum itu, banyak peristiwa yang penyelesaianya bukan dicarikan dari  dalam, tetapi dicarikan dalil dan fatwanya dari luar. Ini karena  keberagamaan kita tidak lagi merujuk atau menggali dari para pandangan  ulama terdahulu yang ada di Kitab Kuning.</p>
<p>Contoh lainnya, sebut saja misalnya bahwa para penghafal Al-Qur’an,  hafidz dan hafidzah di Indonesia selama ini belajar dari guru-guru ahli  al-Qur’an yang ada di pesantren-pesantren tanah air. Seperti kyai Ali  Ma’shum Krapyak, Mbah Arwani Kudus dan Kyai Mufidz Pandanaran.  Belakangan mereka dituntut memiliki sanad dari Saudi Arabiyah, dari  Qatar. Nanti kemudian di sertifikasi. Lalu dengan sertfifikat itu  kemudian bisa minta bantuan dari negeri-negeri Timur Tengah, seperti  Arab Saudi. Saya kira untuk kepentingan teknis, agar hafalanya bagus dan  jaringannya luas maka itu sah-sah saja. Tetapi ini berarti  keindonseiaan klita dalam konteks keberagamaan itu didegradasi. Ini  mengerikan, karena menyangkut otoritas keberagamaan dan ke-Indonesia-an  yang krisis.</p>
<p>Di sisi lain, sekarang ini ada fenomena premisif terhadap berbagai  element yang afailiasinya ke Barat; meski itu  atas nama demokrasi,  pluralisme dan lainnya. Menurut saya, ini seperti melanggengkan  kolonialisasi.  Menghadapi ini kita perlu memproyeksikan Reinventing  Indonesian Islam. Dalam hal ini,minimal kita dapat bercermin pada pada  periode 80-an, melalui gagasan Mbah Ahmad Shiddiq, yang berhasil  merumuskan keislaman Indonesia sedemikain rupa. Dengan konsep Ukhuwah  Islamiyah (persaudaraan sesama muslim)ز</p>
<p>Selain keenam langkah di atas, kita juga perlu menggelorakan kembali   pendidikan humanistik di negeri ini. Kenapa menggagas pendidikan, karena  syarat terciptanya peradaban yang luhur, adalah adanya pendidikan yang  baik. Kenapa memilih pendidikan humanistik, karena  pendidikan  humanistik bersentuhan langsung dengan upaya memberdayakan dan  mencerdaskan masyarakat. Ini berbeda dengan pendidikan skolastik, yang  hanya berorientasi mengisi otak para peserta didik, tanpa disertai upaya  pemberdayaannya.</p>
<p>Salah satu contoh produk pendidikan humanistik adalah Gus Dur. Dia  disebut sebagai guru bangsa, padahal tidak pernah bekerja menjadi guru.  Ini karena penyuaraan Gus Dur yang selalu berpihak pada kemanusiaan. Apa  yang disuarakannya dalam setiap forum ini kedengaran di plosok-plosok  dan menggerakan masyarakat di daerah-daerah.</p>
<p>Dalam sepuluh tahun terakhir ini, tokoh-tokoh kita dan pimpinan-pimpinan  kita yang sekarang ada lebih banyak lahir dari proses politik. Ini yang  membuat mereka terlihat sangat praktis dan pragmatis. Dengan  menghidupkan kajian Kitab Kuning pasca Gus Dur ini, kita memimpikan  lahirnya calon tokoh dan pemimpin yang memiliki paradigma yang cukup dan  memadai.<br />
<strong><br />
Said Aqiel Siradj Pasca Gus Dur</strong></p>
<p>KH. Said Aqiel Siradj, ketua umum PBNU sekarang ini, sesungguhnya tokoh  yang bisa diharapkan melakukan langkah-langkah dinamisasi kitab kuning  sehingga kembali pada posisi strategisnya, sebagaimana pada era  kepemimpinan al-maghfurlah Gus Dur.</p>
<p>Kang Said –panggilan akrab KH. Said Aqiel Siradj- terlahir dari keluarga  pesantren Cirebon, dibesarkan di lingkungan pesantren yang kental dan  salaf. Belajar ke Timur Temgah, khususnya di Madinah, belajar berbasis  kitab-kitab salaf, kitab-kitab kuning. Kemudian berperan di dunia  internasional sebagai tokoh intelektual muslim yang berbasis nalai-nilai  Islam tradisional pesantren, nilai-nilai yang terkandung dalam kitab  kuning. Ketika beliau diminta pulang ke tanah air oleh Gus Dur, dan  beberapa saat menemani beliau, juga selalu berusaha menghidupkan kajian  kitab kuning. Lontaran wacananya yang mencoba menegaskan kembali Manhaj  Ahli Sunnah wal Jama’ah di tubuh NU, sungguh merupakan hasil bacaan yang  cemerlang terhadap khazanah Islam pesantren, kahzanah kitab kuning.</p>
<p>Sesibuk apa pun, Kang Said selalu saja menyempatkan diri untuk member  pengajian. Ini dilakukannya di rumahnya, minimal setiap Selasa malam  Rabu beliau member pengajian bandongan, dengan membacakan kitab Mafatih  al-Ghaib atau Tafsir Kabir karya Al-Razi di hadapan ratusan audience  (mustami’in) yang dengan suka rela dating ke kediamannya. Tidak sedikit  dari mereka yang mengaji ini adalah para dosen ulumul Qur’an dan tafsir  dari perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air. Dari berbagai  khidmah beliau terhadap kajian dan pengajian kitab kuning inilah,  tampaknya Kang Said lah pemimpin NU, setelah Gus Dur yang bisa  diharapkan kembali melakukan dinamisasi kitab kuning. <em>Wallahu a’lam  bi al-Shawab<br />
</em><em><br />
* Penulis adalah Wakil Sekjen PBNU yang juga Sekretaris Dirjen Pendidikan Islam  di Kementerian Agama RI. (Tulisan ini adalah ceramah di Parung akhir Mei  2010 yang disunting oleh Ali Mursyid)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/07/kitab-kuning-pasca-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ida Fauziyah Jamin Netralitas Fatayat NU</title>
		<link>http://www.nujatim.or.id/2010/07/06/ida-fauziyah-jamin-netralitas/</link>
		<comments>http://www.nujatim.or.id/2010/07/06/ida-fauziyah-jamin-netralitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 13:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATAYAT NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nujatim.or.id/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA&#8211;Politikus PKB Ida Fauziyah terpilih sebagai ketua umum PP Fatayat NU periode 2005-2010. Dia terpilih Senin dini hari melalui voting dalam Kongres XIV Fatayat yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. &#8221;Alhamdulillah, saya mendapat amanat dari kongres untuk memimpin Fatayat,&#8221; kata Ida Fauziyah saat memberikan keterangan kepada wartawan di gedung PB NU, Jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><a href="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/IDA-Fauziyah1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-131" title="IDA Fauziyah" src="http://www.nujatim.or.id/wp-content/uploads/2010/07/IDA-Fauziyah1-300x250.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a>JAKARTA&#8211;Politikus PKB Ida Fauziyah terpilih sebagai ketua umum  PP Fatayat NU periode 2005-2010. Dia terpilih Senin dini hari melalui  voting dalam Kongres XIV Fatayat yang berlangsung di Asrama Haji Pondok  Gede, Jakarta Timur.</p>
<p>&#8221;Alhamdulillah, saya mendapat amanat dari  kongres untuk memimpin Fatayat,&#8221; kata Ida Fauziyah saat memberikan  keterangan kepada wartawan di gedung PB NU, Jalan Kramat Raya, Jakarta  Pusat, kemarin (5/7).</p>
<p>Ida berjanji akan merangkul semua pihak ke  struktur kepengurusannya. Baik mereka yang memberikan dukungan kepadanya  maupun mendukung calon lain saat kongres. &#8221;Saya akan ajak semua untuk  membesarkan Fatayat,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Kongres XIV Fatayat yang dibuka  langsung oleh Wapres Boediono, Jumat pekan lalu, itu diikuti 1.200  peserta dari 33 pimpinan wilayah dan 349 pimpinan cabang se-Indonesia.  Dalam pemilihan, Ida Fauziyah mendapat tiga pesaing.</p>
<p>Mereka  adalah Purek Institute Ilmu Al Quran (IIQ) Umi Khusnul Khotimah yang  juga sekretaris umum PP Fatayat demisioner, anggota Komnas Perempuan  Neng Dara Afiah, dan mantan ketua umum PP IPPNU Ratu Dian Hatifah.</p>
<p>Ida  Fauziyah dan Umi Khusnul Khotimah lolos ke pemilihan putaran kedua.  Hasilnya, Ida mengantongi 266 suara, sedangkan Umi Khusnul hanya  memperoleh 116 suara. &#8221;Semua akan diakomodasi di kepengurusan,&#8221;  janjinya.</p>
<p>Lantas, siapa yang akan ditunjuk menjadi sekretaris  umum? &#8221;Nanti diputuskan rapat formatur. Kami diberi waktu sebulan untuk  menyusun kepengurusan,&#8221; jawabnya.</p>
<p>Setelah terpilih sebagai  ketua umum Fatayat, Ida langsung menyatakan mundur dari posisinya  sebagai ketua DPP PKB. Pasal 51 AD/ART PB NU memang mengatur, jabatan  ketua banom (badan otonom) NU tidak dapat dirangkap dengan jabatan  pengurus harian partai politik dan/atau jabatan pengurus harian  organisasi yang berafiliasi ke partai politik.</p>
<p>&#8221;Saya sudah bikin  surat pengunduran diri dan menemui langsung Ketua Umum DPP PKB  (Muhaimin Iskandar, Red),&#8221; katanya. <strong>(pri/c3)</strong></p>
<p>Sumber: <a href="http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=143597">Jawa Pos</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nujatim.or.id/2010/07/06/ida-fauziyah-jamin-netralitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
